Menu

Day: March 19, 2019

Part II: Kehidupan Sehari-hari Pada Zaman Mesir Kuno

Seperti Yang kita ketahui pada artikel sebelum nya mengenai kehidupan keseharian pada zaman mesir kuno dimana sebetulnya visi mereka jauh berbeda dari yang seringkali diperbincangkan. Dan ini lah beberapa hal lanjutan yang berbeda dari kehidupan Mesir kuno dan Mesir saat ini.

Berlindung

Bentuk utama tempat berlindung di Mesir kuno adalah rumah-rumah yang terbuat dari batako, bata yang terbuat dari lumpur yang dijemur. Jendela dan pintu adobes ditutupi dengan tikar untuk menghalang lalat dan serangga lainnya keluar, dan rumah-rumah diisi dengan hiasan seperti kita menghiasi temapt tinggal kita hari ini.

Meskipun bangsawan seringkali memiliki rumah yang lebih besar yang dibagi menjadi tiga area, lokasi penerimaan, aula, dan tempat tinggal pribadi, semua petani bermukim di rumah-rumah kota yang tingginya bisa mencapai dua atau tiga lantai.

Lantai pertama tempat tinggal kota biasanya disediakan untuk kebutuhan bisnis dan resepsi, sementara dua lantai teratas berfungsi sebagai kompleks pribadi untuk penghuninya. Karena tidak ada pipa drainase air di dalam tempat tinggal pada waktu itu, limbah harus dibuang di sungai, lubang dan bahkan di jalan-jalan.

Agama

Orang Mesir kuno percaya pada dewa dan dewi mitologi Mesir. Agama mereka politeistis, namun kota-kota dan desa-desa tidak jarang mengklaim dewa tertentu sebagai dewa yang sangat mereka puja. Agama itu diisi dengan ritual, ritus, dan praktik serta upacara eksklusif lainnya, dan banyak kuil di bangun untuk memuliakan dewa dan dewi tertentu.

Budaya

Budaya Mesir Kuno terdiri dari berbagai hiburan. Berdasarkan keterangan dari lukisan dan gambar yang ditemukan, orang Mesir terlibat dalam segala hal mulai dari memancing sampai berperahu di sungai Nil. Ada cerminan mereka berburu buaya dan kuda nil, berenang dan bermain permainan perahu. Olahraga lain termasuk atletik dan versi awal olahraga tim yang kita kenal sekarang, seperti dayung atau hoki.

Sekte yang lebih kaya dari orang-orang Mesir dihibur dengan menyelenggarakan pesta-pesta mewah lengkap dengan berbagai makanan dan minuman, seperti yang masih saya dan Anda lakukan hari ini saat kita menyelenggarakan pesta. Musik juga bagian terpenting budaya Mesir kuno, serta pesta rakyat juga termasuk kedalamnya.

Mainan anak-anak diukir dalam bentuk binatang, bola dan kuda di atas roda, bahkan terdapat permainan papan seperti Senet dan Hounds & Jackals.

Sungai Nil

Sungai Nil paling penting untuk keberlangsungan hidup orang Mesir kuno. Sungai Nil tidak hanya sebagai sumber utama air minum, tetapi juga memiliki keterampilan untuk menjadikan tanah yang paling subur yang diperlukan orang Mesir untuk bertahan hidup.

Sebagian besar Mesir adalah tanah gurun kering, dan banjir tahunan yang disediakan sungai memungkinkan air mengalir ke tepian sehingga tanaman bisa memiliki air yang mereka butuhkan untuk tumbuh. Akibatnya, banyak kota dan desa bermunculan di sekitar sungai Nil.

Di samping itu, Sungai Nil juga merupakan tempat orang Mesir mendapat buluh papirus yang mereka pakai untuk menciptakan kertas dan bahan bangunan.

Fashion

Orang Mesir kuno mengenakan pakaian yang terbuat dari linen, bahan yang enteng dan dingin, dalam potongan yang menutupi atau melilit tubuh. Barang-barang lainnya adalah sandal yang terbuat dari serat kulit atau tanaman, dan dekorasi kepala – tidak jarang dikaitkan dengan dewa dan firaun.

Kebersihan sebenarnya paling penting untuk orang Mesir kuno. Mereka melakukan ritual pembersihan setiap hari di sungai atau mandi di tempat tinggal di bak air yang dipenuhi dengan air dari sungai. Mereka tidak memakai sabun. Sebagai gantinya, mereka membasuh dengan krim pembersih yang terbuat dari minyak, jeruk nipis dan parfum.

Di samping itu, pria, wanita, dan anak-anak dari semua kelas memakai makeup. Kohl di dekat mata adalah jenis riasan yang sangat populer, dan digunakan lebih dari sekadar kebutuhan kosmetik: sebetulnya membantu melindungi kulit orang Mesir kuno dari paparan sinar matahari.

Hampir seluruh orang Mesir kuno menggunakan perhiasan. Mereka mengenakan jimat dan cincin untuk kebutuhan fashion maupun religius. Telinga, jimat, gelang, dan kalung yang ditindik adalah hal yang biasa di kalangan petani, sedangkan orang-orang kaya mengenakan kerah dan liontin dari manik-manik atau permata serta perhiasan yang tercipta dari emas, perak, dan elektrum.

Read More